Pagi itu tak seperti biasanya, langit biru terselubungi oleh kegelapan mendung. Pertanda 'kan turun hujan. Aku sampai di sekolah pukul 06.20 dan nuansa masih hening. Begitu waktu menunjukkan pukul 07.00, guyuran hujan telah membasahi dunia seraya bel masuk bernyanyi kencang. Hujan turun tiada henti hingga pukul 12.30 dan memaksa siswa untuk berteduh. Kecuali aku, yang tetap menerobos untuk pulang segera, tapi tak secepat yang ku kira. Aku melihat temanku sedang kesusahan di pinggir sungai. Semua barang bawaannya jatuh, dengan lugas aku bantu dia. Selepas itu, aku dengannya berteduh di sebuah warung. Disana, aku dibuat tak berdaya olehnya, pancaran wajahnya bagai cahaya bintang yang mengkacaukan lensaku dan senyumannya mengundang reaksi dibenakku. Tak befikir ganda, 'ku berkenalan dengannya dan siapakah dia ? dia adalah Ainun, teman yang aku segani sejak kelas 7.
Esok pagi, aku berangkat ke sekolah menunggangi sepeda. 25 meter kemudian, 'ku melihat dia dengan transportasi yang sama dan produk yang sama hanya warnanya saja yang berbeda. Waktu istirahat, aku menuju koperasi membeli jajan. Tak lama kemudian, ku sapa Ainun yang kebetulan lewat di depanku sembari membawa jajan yang sama denganku. Aku merasa heran dengannya, mengapa terjadi kesamaan antara diriku dengannya ? sepeda sama, jajan sama, apa - apa sama. "Ya Allah. Jika engkau memang menyesuaikan keadaanku dengannya, maka satukan diriku dengannya, Ya Allah." itulah untaian Do'aku pada Rabb-Ku.
Dua pekan kemudian, diumumkanlah hasil ujian nasionalku kemaren, alhasil semuanya lulus dan lusanya aku dan kerabat seangkatan diwisuda. Setelah rangkaian acara wisuda terlaksana, aku teringat akan Ainun, aku belum mengucapkan salam dengannya. Akhirnya ku berlari mengitari sekolah seraya bertanya pada kerabat "Apakah Ainun, sudah pulang", "Sudah, emangnya kenapa ?", "Aku lupa 'tuk memberikan salam padanya. Btw Ainun besok sekolah dimana ?", "Ainun mondok di kampung halamannya, Purwokerto.". "Ya sudah, terima kasih".
Oh tidak, sungguh frustasi aku dibuatnya. Mana mungkin aku mengejar sejuah itu. Kini aku hanya bisa berpasrah dan menunggu keajaiban dari Atas.
BERSAMBUNG............
BERSAMBUNG............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar